Selasa, 01 April 2008

Film Ayat-Ayat Cinta -Tidak Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat

Bismillahirrohmanirrohim

Kembali kepada judul artikel ini, bahwa yang dimaksud Film Ayat-ayat Cinta tidak lebih berbahaya dari film maksiat adalah dari banyak hal. Di antaranya, kalau yang dimaksud film maksiat itu adalah film yang di dalamnya banyak menampakkan aurat bahkan tidak sehelai benangpun yang menutupi tubuh, maka ini jelas bahwa film maksiat lebih berbahaya dari film Ayat-ayat Cinta. Dan kalau yang dimaksudkan adalah bahwa film maksiat adalah film yang mengajak kepada perbuatan yang berdosa, maka jelas secara tujuan yang dibuatpun film seperti ini masih lebih berbahaya dari film Ayat-ayat Cinta.

Namun secara keseluruhan, film Ayat-ayat Cinta adalah sama saja dengan film-film lainnya. Sama saja seperti sandiwara-sandiwara lainnya yang tujuan kebaikan yang diinginkan lebih sedikit, bahkan sangat sedikit atau bahkan hampir para peminatnya tidak bisa mengambil manfaat darinya dan keburukan yang terdapat di dalamnya sangat banyak. Hal ini sudah disebutkan pada artikel Film Ayat-ayat Cinta -sebuah bahan renungan- atau di Ayat-ayat Setan Berkedok Ayat-ayat Cinta.

Dan saya sangat heran juga ketika dari era muslim menanggapi artikel tersebut. Di sana dikatakan:

Kesimpulan sederhananya, orang Arab (Timur Tengah) adalah anti film, jadi percuma berdakwah kepada mereka dengan menggunakan film. Belum apa-apa mereka sudah bikin fatwa sesat dan haram, tanpa pernah melihat filmnya. Pokoknya masuk bioskop saja sudah haram, biarpun filmnya dari awal hingga akhir isinya hanya kumpulan rekaman ceramah.

Begitulah yang dijawab oleh era muslim ketika menjawab seorang penanya yang memerlukan kepastian jawaban.

Dan juga dikatakan di sana:

Mulai dari antri tiket, sampai urusan campur baur laki-laki dan perempuan di dalam ruang theater, sampai pemain filmnya ada yang perempuan dan seterusnya, semua akan dijadikan dasar keharaman sebuah film dan bioskop. Dan itu buat mereka adalah harga mati.

Saya heran dengan jawaban dari era muslim. Padahal, hal-hal yang ia ragukan tersebut yang oleh orang Arab (menurutnya) dianggap sebagai harga mati memang sudah dijelaskan di dalam Al Qur’an dan hadits nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Saya berusaha untuk tidak berburuk sangka dengannya. Mungkin, ia hanya ingin berusaha bersikap “adil” di kalangan pembacanya. Namun, mengapa ia tidak mau bersikap adil dengan agamanya. Dan sayangnya, era muslim sendiri tidak menjawabnya dengan tegas. Yang ditanya mengenai kejelasan apakah Film Ayat-ayat Cinta lebih berbahaya dari film maksiat atau tidak? Kalau memang lebih berbahaya, dari segi apanya? Kalau tidak lebih berbahaya, dari segi mananya?.

Dan hasil dari jawabannya sungguh membingungkan. Mengapa malah di sana dikatakan:

Walhasil, dari sudut pandang ini, film itu kurang mengangkat ke-Mesiran-nya, Tapi apa itu penting buat penonton di negeri ini?

Aneh memang. Padahal ia baru menyebutkan kedua sisi. Sisi sufi (suka film) dan sisi tifi (anti film), berakhir dengan pernyataan yang menyisakan tanya. Namun, kalau melihat artikel-artikel yang ada di dalam situs era muslim sendiri saya tidak akan heran dengan jawaban tersebut. Di dalamnya sendiri, terlalu banyak artikel yang saling berseberangan antara satu dengan lainnya. Di sana juga terdapat iklan yang melanggar syariat.

Baik, saya di sini tidak hanya ingin mengatakan bahwa sebaiknya jangan berkonsultasi di era muslim. Tapi, saya juga ingin memberikan jalan keluar (solusi). Kalau ingin bertanya, konsultasi, dan lainnya yang kita ingin mendapatkan jawaban yang benar, tegas, dan ada dasarnya dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Demikianlah, sehingga film Ayat-ayat Cinta sama saja seperti film-film lainnya. Keburukan yang banyak yang terdapat di dalamnya, menghiasi secuil kebaikan yang diharapkan oleh pembuatnya. Apalagi, sampai dikatakan sebagai film dakwah. Sungguh, jauh panggang dari api. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Bagaikan timur dengan barat. Berseberangan. Karena memang tidak ada dakwah lewat hal yang demikian. Masih banyak cara yang syra’i yang diridhoi Allah ketimbang membuat film. Meski, dari segi tontonannya film-film maksiat yang berbau pornograpi dikatakan lebih berbahaya dari film Ayat-ayat Cinta.

Jadi, kesimpulannya bahwa kedua judul tersebut, Film Ayat-Ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat- dan artikel ini, memang memiliki sisi pandang yang berbeda. Dikatakan lebih berbahaya, karena film tersebut dianggap film dakwah atau bahkan dianggap telah melakukan ibadah setelah membuat atau menonton film tersebut, padahal banyak sekali larangan yang dilanggar di sana. Dan dikatakan tidak lebih berbahaya, karena dari sisi tampilan yang ditayangkan.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar: